PROPOSAL PENELITIAN
EVALUASI PEMBELIAN BAHAN BAKU UNTUK MENCAPAI EFISIENSI BIAYA PRODUKSI PADA PENGUSAHA TAHU
( STUDI KASUS DI PENGUSAHA TAHU PAK SIGO )

Di susun oleh :
IPUTU SUMARIANTO
2009 12 032
Program Studi Agribisnis
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDI DJEMMA
PALOPO
2012
I. PENDAHULUAN
1.1. Pendahuluan.
Perusahaan untuk dapat berkembang haruslah melalui perjuangan dan didukung dengan perencanaan yang matang dalam menghadapi berbagai masalah dan rintangan yang timbul, seperti masalah operasional, keuangan, maupun masalah pemasaran dari produk yang diproduksi. Masalah persaingan antar perusahaan mengharuskan perusahaan harus terus menerus melakukan perbaikan dalam mutu barang dan layanan serta efisiensi dalam menekan biaya produksi. Pada perusahaan manufaktur, penghasilan yang diperoleh dari hasil penjualan produk yang diolah sendiri dalam hal ini perusahaan manufaktur harus mengolah terlebih dahulu bahan baku melalui proses produksi menjadi barang yang siap dijual, oleh karena itu untuk memperoleh laba yang maksimal perusahaan manufaktur harus benar-benar memperhatikan biaya produksi, sehingga harga pokok produksi dapat ditentukan dengan tepat. Anonimus (2007)
Berkaitan dengan kegiatan proses produksi, perusahaan harus mempunyai kemampuan untuk dapat mendaya gunakan segenap sumber-sumber yang dimiliki oleh perusahaan sebanding dengan bahan-bahan dan jasa-jasa yang diolah menjadi produk. Bahan-bahan yang diperlukan oleh perusahaan sangat menentukan atau mempengaruhi tingkat kualitas dan kuantitas produk dan harga jual produk karena bila harga bahan yang diperoleh terlalu tinggi dengan kualitas dan kuantitas yang kurang memuaskan tentunya akan mempengaruhi tingkat biaya produksi dan harga jual produk sehingga perusahaan akan mengalami kerugian, sebaliknya bila harga pembelian bahan rendah atau murah sesuai dengan harga yang berlaku dipasaran dengan kuantitas dan kualitas yang baik serta waktu penyerahan yang tepat, maka perusahaan dapat menekan tingkat biaya produksi dan harga jual produk mampu bersaing dengan perusahaan sejenis lainnya sehingga apa yang menjadi tujuan perusahaan dapat tercapai.
Sebelum melakukan kegiatan produksi perusahaan terlebih dahulu menyiapkan faktor-faktor produksinya diantaranya adalah bahan baku yang akan diolah menjadi produk jadi. Didalam pengadaan bahan baku perusahaan dapat membuat sendiri atau membeli bahan baku tersebut dari pemasok. Pembelian bahan baku ini merupakan salah satu fungsi dari manajemen persediaan karena berkaitan dengan pengadaan barang, baik berupa bahan baku, bahan setengah jadi maupun bahan jadi. Menurut Fien (2005) peran manajemen pembelian ditunjang oleh besarnya biaya pembelian yang mencapai 50% sampai 70% dari total biaya produksi dan berdampak langsung pada kualitas produk. Tahap pembelian ini dimulai dari pengadaan, penyimpanan, sampai penyerahan barang untuk kegiatan proses produksi.
Purchasing (pembelian) merupakan salah satu fungsi penting dalam menunjang keberhasilan produksi perusahaan, karena fungsi ini mempunyai tanggung jawab untuk mendapatkan bahan baku dengan kuantitas dan kualitas yang baik dan sesuai dengan kebutuhan, harga yang layak, penyerahan tepat waktu yang sesuai dengan ketentuan. Sebelum melakukan pembelian diperlukan adanya suatu strategi pembelian yang tepat bagi perusahaan untuk mendapatkan kuantitas dan kualitas bahan pada harga yang pantas. Strategi pembelian yang digunakan oleh setiap perusahaan berbeda tergantung pada situasi yang dihadapi dan perkembangan usaha perusahaan. system penyediaan bahan dengan strategi pembelian yang tepat dapat menjamin kelancaran kegiatan dan perkembangan perusahaan dimasa yang akan datang. Oleh karena itu perlu pertimbangan yang cermat dan tepat agar setiap rencana yang hendak dilaksanakan dapat terealisasikan seperti apa yang diharapkan dan kemungkinan faktor-faktor yang merupakan kelemahan atau penghambat dapat diantisipasi sedini mungkin. Penggunaan straregi yang tepat juga akan dapat menunjang tercapainya tingkat efisiensi biaya produksi sehingga keuntungan yang dapat diperoleh perusahaan dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi.
Biaya pembelian material pada perusahaan supplier mencakup sejumlah biaya yang dikeluarkan perusahaan supplier untuk melaksanakan proses produksinya. Sebelum harga beli ditetapkan departemen pembelian harus menghitung perkiraan harga material dan menetapkan harga standar sebagai harga patokan, dengan demikian harga beli yang akan ditetapkan akan menjadi harga yang wajar. Pembelian material dengan harga terlalu mahal mengakibatkan peningkatan biaya produksi yang kemudian dapat mengurangi keuntungan perusahaan. Sebaliknya pembelian material dengan harga yang terlalu murah meskipun dapat menguntungkan perusahaan akan tetapi dapat menimbulkan permasalahan di masa yang akan datang yaitu perusahaan kesulitan dalam menetapkan standar pembelian dan penjualannya jika harga pembelian tiba-tiba menjadi naik.
Hasil produksi perusahaan dipengaruhi oleh pengadaan bahan baku, tenaga kerja serta biaya overhead pabrik. Pengadaan bahan baku adalah variabel yang memegang peran penting bagi kelangsungan hidup perusahaan, dengan adanya bahan baku yang teredia memudahkan perusahaan untuk menjalankan operasinya. Variabel lain adalah tenaga kerja yaitu terdiri dari karyawan-karyawan yang melakukan proses produksi. Disamping itu biaya overhead juga merupakan faktor penting karena pada saat produksi berlangsung terdapat biaya tambahan selain biaya diatas.
Pada usaha tahu Pak Sigo yang merupakan usaha industri rumah tangga, dibutuhkan perencanaan produksi yang baik jika usaha ini ingin berkembang. Pada kegiatan produksi perusahaan, efisiensi biaya sangat diperlukan guna meminimalisasi modal dan peningkatan laba . Untuk menyesuaikan antara biaya pembelian dengan penjualan maka diperlukan perhitungan harga pokok produksinya, sebagai analisa biaya dan pendapatan untuk melihat efisiensi usaha tersebut.
Dari uraian diatas untuk menjaga keseimbangan konsep yang akan kami bahas selanjutnya maka kami menyertakan rumusan masalah yang terkait dengan isi dari makalah kami ini, yaitu tentang “Evaluasi Pembelian Bahan Baku untuk Mencapai Efisiensi Biaya Produksi Pada Pengusaha Tahu “.
1.2. Batasan kasus situasi belajar
Dalam studi ini di pilih usaha yang bergerak dibidang pengusaha tahu, spesipik kepada proses pembuatan, dalam hal ini milihat “,Bagai mana Evaluasi Pembelian Bahan Baku untuk Mencapai Efisiensi Biaya Produksi Pada Pengusaha Tahu “ Adapun pengusaha yang saya teliti adalah Pengusaha tahu pak sigo, yang berlokasi di Desa balete, Kecamatan Sukamaju, kabupaten luwu utara
a. Sumber bahan baku yang meliputi dari mana bahan baku yang di peroleh, umur berapa bahan baku tersebut dipanen dan hasil penennya di jual kemana.
b. Proses pembuatan tahu sampai menjadi tahu dibuat berapa lama
c. Bagaimana membuat biaya pembelian bahan baku yang tepat agar dapat mencapai tingkat biaya produksi yang lebih rendah
1.3. Sasaran belajar
‘ dalam sasaran belajar adalah “Bagai mana Evaluasi Pembelian Bahan Baku untuk Mencapai Efisiensi Biaya Produksi Pada Pengusaha Tahu” dan dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu:
a. Aspek pengetahuan
Ø Untuk mengetahui pola manajemen pengadaan bahan baku yang diterapkan dalam perusahaan ini.
Ø Untuk mengetahui biaya pembelian bahan baku
Ø Untuk mengetahui masalah yang di timbulkan oleh di dalam proses mana jemen dan mengetahui alternatif dalam pemecahan masalah tersebut.
b. Aspek keterampilan
Ø Mampu dan terampil dalam menanganin manajemen pengadaan bahan baku yang diterapkan dalam perusahaan tersebut.
Ø Mampu dan terampil dalam mengidentifikasi masalah-masalah yang dihadapi pada setiap proses yang di hadapi pada setiap proses yang di terapkan.
Ø Terampil dalam upaya dan menentukan alternatip dalam upaya pemecahan masalah.
c. Aspek sikap
Ø Menghargai pola manajemen yang berlaku dan telah di terapkan pihak perusaan.
Ø Menciptakan suasana kerja yang kondusif dan menyenangkan.
Ø Menjalin rasa persaudaraan dan kekeluargaan degan manajemen dan para karyawan.
Ø Dapat memetik manfaat dari pengalaman belajar atas kasus yang sedang dikaji.
1.4. Metode aktifitas belajar
1.4.1. Pemilihan dan pendekatan kasus
Pemilihan kasus dalam penelitian ini di lakukan secara purposive yaitu memilih secara langsung objek atau sampel yang akan di teliti degan pertimbagan bahwa populasi yang dijadikan sampel sagat terbatas. Alasan lain memilih Pengusaha Tahu sebagai sampel karna lokasinya yang sangat strategis dan mudah di jangkau, selain itu pengadaan bahan baku akan selalu dilakukan dan bias mendukung kegiatan yang akan peneliti lakukan.mengigat jumblah bahan baku yang dibutuhkan dalam penelitian ini cukup besar untuk sampai pada tahap akhir pengumpulan data.
Pendekatan kasus dilakukan degan cara wawancara, observasi.
1.4.2. Lokasi dan tempat
Tempat penelitian ini berlokasi di Pengusaha Tahu yang beralamat di Desa balete, Kecamatan Lampuawa, Kabupaten Luwu Utara degan pertimbagan bahwa lokasinya yang strategis dan mudah di jangkau. Kegiatan penelitian ini akan dilaksanaan kurang lebih selama Dua Kali yang rencana akan di mulai pada tanggal 19-18 Tahun 2012
1.5. Metode penelitian
Untuk mencapai sasaran yang akan diiginkan, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampila dan aspek sikap maka di gunakan metode APPAS ( analisis persoalan dan pengembangan agrosistem ) degan tahap sebagai berikut:
Ø Untuk mencapai aspek pengetahuan, digunakan metode studi kasus yang diharapkan akan mengungkapkan akan mengungkapkan situasi kasus yang menjadi pokus kajian. Untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan dalam kasus ini digunakan metode observasi, wawancara.
Ø Mencapai aspek keterampilan, digunakan metode wawancara yaitu dengan menanya langsung dalam perusahan.
Ø Untuk mencapai aspek sikap, diharapkan akan muncul pada tahapan problematisasi dan intraksi terhadap kasus.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pembelian bahan baku.
2.1.1. Arti dan pentingnya Bahan Baku.
Bahan baku bagi perusahaan sangatlah dibutuhkan dalam kegiatan proses produksi, karena bahan baku akan diolah menjadi produk jadi. Untuk itu, bahan baku sangatlah penting dalam menunjang keberhasilan kegiatan proses produksi. Hal ini disebabkan kaena bahan baku sangat mempengaruhi bentuk atau komposisi produk jadi baik secara kuantitas maupun kualitas serta harga jual produk.
Bahan baku mempengaruhi factor kuantitas maupun kualitas produk, karena jika bahan baku yang diperoleh memiliki kuantitas dan kualitas yang baik maka akan memperlancar kegiatan proses produksi dan perusahaan akan mampu menghasilkan produk dengan mutu yang memuaskan.
Disamping itu bahan baku merupakan factor penting dalam penetapan harga pokok produksi, karena jika perusahaan mampu untuk menekan biaya baha baku ini maka perusahaan akan dapat meningkatkan keuntungan yang diperolehnya.
2.2. Macam macam bahan baku.
Dalam proses produksi suatu perusahaan manufaktur biasanya membutuhkan bahan baku untuk menghasilkan suatu produk. Carter usry (2002 : 40) jenis bahan baku ada dua macam, yakni:
2.2.1. Bahan baku langsung
Adalah semua bahan baku yang membentuk bagian integral dari produk jadi dan dinasukkan secara eksplisit dalam perhitungan biaya produk. Contoh dari bahan baku langsung adalah kayu yang digunakan untuk membuat mebel dan minyak mentah yang digunakan untukmembuat bensin.
2.2.2. bahan baku tidak langsung
Adalah bahan baku yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu produk tetapi tidak diklasifikasikan sebagai bahan baku langsung karena bahan baku tersebut tidak menjadi bagian dari produk atau karena secara jumlah tidak signifikan . Contohnya adalah amplas pola kertas, dan pelunas.
2.3. Biaya pembelian
Biaya ini adalah harga pembelian material yang dipesan dari perusahaan supplier, yaitu sejumlah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan supplier untuk melaksanakan proses produksinya. Biaya ini terdiri dari : biaya untuk penyediaan bahan baku, biaya untuk pemrosesan ditambah dengan biaya-biaya yang lain termasuk sejumlah keuntungan yang wajar yang harus diterima oleh perusahaan supplier sebagai imbalan atas usahanya.
2.3.1. Fungsi pengadaan material mengandung pengertian sebagai berikut:
Ø Fungsi biaya
Merupakan fungsi untuk menciptakan laba bagi perusahaan dengan usaha penghematan biaya dan selalu berusaha untuk dapat melakukan penurunan biaya material pada kondisi biaya yang wajar.
Ø Fungsi perolehan.
Merupakan fungsi untuk mengadakan jumlah pasokan material yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan proses produki. Dalam proses produksi yang pertama diperlukan adalah bagaimana memperoleh material yang cukup, kapan dan bagaimana memasoknya ke lini produksi.
2.4. Langkah-langkah dalam pembelian
Dalam melakukan pembelian diperlukan beberapa hal yang terkait yaitu:
a. membuat perencanaan produksi
b. mengukur kemampuan pemasok
c. menentukan waktu tunggu
d. mempertimbangkan harga
e. menentukan jumlah pembelian
2.5. Strategi dan teknik pembelian
Teknik pembelian merupakan cara atau metode bagaimana pembelian itu dapat dilaksanakan. Sedangkan strategi adalah pemilihan cara atau teknik yang tepat bagi suatu perusahaan, sehingga perusahaan lebih mampu mempertahankan hidupnya dan mengembangkan usahanya.
Macam teknik pembelian yang digunakan oleh perusahaan adalah sebagai berikut:
2.5.1. Pembelian cara biasa.
Cara pembelian ini adalah cara pembelian konvensional yang ditempuh dalam kegiatan pembelian untuk memenuhi kepeluan biasa,. Rutin, atau pembelian yang direncanakan atau tidak direncanakan jauh hari sebelumnya, yaitu dengan menggunakan surat pesanan.
2.5.2. Pesanan selimut.
Pesanan selimut atau blanket order atau blanket purchase ordrer mendasarkan pesanan atau pembelian persatuan pasti selama waktu tertentu.
2.6. Biaya Produksi
2.6.1. Arti dan pentingnya biaya produksi.
Perusahaan mempunyai fungsi pokok yang lebih kompleks dibandingkan dengan perusahaan dagang dan jasa. Hal ini disebabkan karena perusahaan harus mengubah bentuk barang yang dibeli menjadi produk jadi atau siap pakai, sedangkan perusahaan dagang langsung menjual barang-barang yang dibeli tanpa melakukan perubahan bentuk.
Oleh karena untuk memperoleh dan mengolah bahan-bahan menjadi produk jadi dalam kegiatan proses produksi diperlukan dana atau biaya-biaya, maka untuk menutup pengeluaran biaya- biaya tersebut biasanya perusahaan memperhitungkannya dalam penetapan harga jual produk. Kebijakan manajemen dalam penetapan harga jual produk belum dapat memadai jika hanya ditujukan untuk mengganti atau menutup semua biaya yang telah dikeluarkan, tetapi juga harus dapat menjamin adanya laba yang diharapkan, meskipun keadaan yang dihadapi tidak menguntungkan. Walaupun permintaan dan penawaran biasanya merupakan factor yang menentukan dalam penetapan harga, namun penetapan harga jual produk yang menguntungkan akan tergantung pula pada pertimbangan mengenai biaya.
Untuk itu perusahaan berusaha untuk menekan atau memperkecil pengeluaran biaya, kususnya yang berkaitan dengan kegiatan proses produksi, baik mengenai biaya perolehan bahan baku, biaya yang dikeluarkan untuk bahan pembantu atau penolong, biaya tenaga kerja, penyusutan peralatan, pemeliharaan, dan sebagainya.
Bila perusahaan dapat menekan biaya sampai pada batas minimal maka perusahaan akan dapat mencapai keunggulan biaya sehingga nilai keuntungan yang diperoleh perusahaan akan meningkat, dan dalam strategi penjualannya apakah perusahaan akan menurunkan harga jual produknya atau tetap pada harga yang berlaku dipasar semua tergantung pada perusahaan itu sendiri.
Istilah biaya dapat diartikan bermacam-macam, tergantung pada maksud pemakaian istilah tersebut.
2.6.2. Pengertian Biaya
Menurut mulyadi (1998 : 8) mengatakan bahwa biaya adalah pengorbanan sumber okonomi yang diukur dalam bentuk satuan uang yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.
Menurut Sunarto (2003 : 4) mengatakan bahwa biaya adalah harga pokok atau bagiannya yang telah dimanfaatkan atau dikonsumsi untuk memperoleh pendapatan.
2.6.3. Macam biaya produksi
Biaya produksi atau biaya pabrik dapat didefinisikan sebagai jumlah dari tiga elemen biaya, yaitu bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik.
Bahan baku langsung adalah semua bahan baku yang membentuk bagian integral dari produk jadi dan dimasukkan secara ekplisit dalam perhitungan biaya produksi.
Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang melakukan konversi bahan baku langsung menjadi produk jadi dan dapat dibebankan secara layak ke produk tertentu.
Overhead pabrik adalah semua biaya manufaktur yang tidak dapat ditelusuri secara langsung ke output tertentu selain biaya bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung.
2.6.4. Biaya dalam hubungannya dngan volume produksi.
Beberapa jenis biaya berubah secara proposional terhadap perubahan dalam volume produksi atau output, sementara yang lainnya tetap relative konstan dalam jumlah. Kecenderungan biaya untuk berubah terhadap output harus dipertimbangkan oleh manajemen jika manajemen ingin sukses dalam merencanakan dan mengendalikan biaya.
Menurut Carter Usry (2002 : 42) ada tiga macam biaya dalam hubungannya dengan volume produksi, antara lain:
Ø Biaya variable
Merupakan suatu biaya yang meningkat totalnya secara proposional terhadap peningkatan dalam aktivitas dan menurun totalnya secara proposional terhadap penurunan dalam aktivitas. Biaya variable menunjukkan jumlah per unit yang relative konstan dengan berubahnya aktivitas dalam rentang yang relevan.
Ø Biaya tetap
Merupakan suatu biaya yang tidak berubah secara total pada saat aktivitas bisnis meningkat atau turun
Ø Biaya semi variable
Merupakan suatu biaya yang memperlihatkan baik karakteristik biaya tetap maupun karakteristik biaya variable.
2.7. Faktor-faktor yang mempengaruhi biaya produksi.
Menurut supriyono ada tiga factor yang mempengaruhi biaya produksi yaitu antara lain:
a. Pengaruh manajemen terhadap biaya.
b. Karakteristik biaya dihubungkan dengan keluaran.
c. Pengaruh perubahan volume kegiatan terhadap biaya.
2.8. Kaitan antara pembelian bahan baku dengan biaya produksi.
Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa tujuan dari pada kegiatan pembelian adalah mendapatkan bahan-bahan atau peralatan yang sesuai dengan kualitas dan kuantitas yang dibutuhkan pada harga yang pantas dan ketepatan waktu penyerahannya serta dari sumber yang dapat dipercaya. Apabila tujuan ini dapat dicapai perusahaan akan dapat menekan biaya operasi lebih rendah atau efisien, sehingga akan diperoleh peningkatan profitabilitas. Hal ini disebabka karena pembelian bahan sangat mempengaruhi dalam penetapan harga pokok produkisi, kususnya dalam struktur biaya, bila biaya-biaya ynag dikeluarkan untuk mendapatkan bahan-bahan tersebut lebih tinggi, maka akan memperkecil tingkat profitabilitas perusahaan.
BAGIAN I
STUDI KASUS
1.1. Sejarah Singkat Pengusaha
Pengusaha Tahu adalah pengusaha yang bergerak dibidang bahan makanan. Pengusaha tahu ini beralamat di desa belete Kecamatan sukamaju Kabupaten luwu utara Sulawesi Selatan Indonesia.
Tujuan dari pengusaha ini adalah untuk produksi bahan makanan berupa tahu, yang kemudian dapat mampu menyerap tenaga kerja, dan pada akhirnya dapat membantu menguatkan perekonomian penduduk disekitar pengusaha.dapat menciptakan lapangan kerja. Setelah berjalan beberapa lama dengan nama pengusaha Tahu ini dan cukup lancar memproduksi bahan makanan berupa tahu yang cukup.
1.2. Struktur Organisasi Pengusaha Tahu
Struktur organisasi mempunyai peranan penting dalam suatu perusahanaan untuk mencapai tujuan dari perusahaan itu sendiri. Struktur organisasi dapat menunjukan pembagian tugas dan wewenang dari setiap posisi dalam struktur organisasi yang jelas
Adapun uraian tugas, wewenang, dan tanggung jawab pada masing-masing jabatan dalam struktur organisasi pada Pengusaha Tahu adalah sebagai berikut :
1.2.1. Pemilik Usaha
1. Bertanggung jawab penuh terhadap pengusaha
2. Membuat strategi pengusaha
3. Membuat rencana program kerja pengusaha yang mendukung visi dan misi pegusaha kedepan
4. Menetapkan tugas, tanggung jawab, dan wewenang dari semua karyawan
5. Mengevaluasi program kerja dan mengatasi permasalahan yang muncul dalam perusahaan
6. Memilih, mengangkat dan memberhentikan karyawan
7. Menetapkan rencana jangka panjang perusahaan
1.2.2. karyawan
1. Membuat tahu, .
1.3 . Visi dan Misi Pengusaha
Adapun visi misi dari Pengusaha Tahu adalah sebagai berikut :
1.3.1. Visi Pengusaha
Pengusaha Tahu memiliki visi sebagai mitra/partner strategis yang sanggup memberikan kepuasan dan memberikan produksi yang berkualitas.
1.3.2. Misi Pengusaha
Misi perusahaan Pengusaha Tahu sebagai dasar kebijakan, yaitu :
- Membuat hasil produksi bahan makanan berupa tahu tahu yang berkualitas
- Dapat mencipta lapangan kerja bagi masarakat setempat
BAGIAN DUA
ANALISIS POSISI DAN KINERJA AGROSISTEM
2.1. Analisis Posisi Sumber Daya Pengusaha
Agrosistem sebagai struktur atau organisasi sumberdaya terdiri dari beberapa dimensi dan jenis sumberdaya. Dalam suatu agrosistem baik pada agroindustri tertentu, harus dapat mengalokasikan sejumlah sumberdaya yang memberikan input dan menghasilkan output yang menguntungkan secara berkesinambungan.
Posisi usaha adalah kekuatan sumberdaya yang dimiliki oleh suatu usaha. Analisis mengenai sumberdaya dari suatu usaha yang akan datang atau telah dilakukan dengan cara memperkirakan segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk dapat mendukung usaha.
Sumberdaya merupakan input yang terlibat dalam proses suatu sistem, dimana dari input tersebut diharapkan dapat menghasilkan output yang dapat memberikan keuntungan. Sumberdaya dapat dinilai terdiri sumberdaya lahan dan bangunan, sumberdaya manusia, sumberdaya peralatan dan sumberdaya finansial.
Analisis posisi adalah analisis mengenai kondisi atau keadaan dari sumberdaya-sumberdaya yang dimiliki oleh pengusaha atau agrosistem kasus. Perusahaan atau agrosistem sebagai suatu struktur atau organisasi sumberdaya terdiri dari beberapa dimensi dan jenis sumberdaya. Sumberdaya tersebut dapat berupa sumberdaya lahan, bangunan, peralatan, manusia dan sumberdaya finansial.
2.1.1. Sumberdaya Lahan dan Bangunan
Sumberdaya lahan adalah segala sesuatu yang bisa memberikan manfaat dari bentang alam (lanscape) yang fisik yang meliputi pengertian lingkungan fisik seperti tanah, iklim, topografi/relief, hidrologi dan vegetasi alami (natural vegetation) dimana secara potensial akan berpengaruh terhadap penggunaan lahan .
Sumberdaya lahan dan bangunan merupakan sumberdaya yang penting dalam suatu perusahaan mengingat lahan dan bangunan merupakan tempat. dilakukannya kegiatan-kegiatan dalam perusahaan. Selain itu, sumberdaya lahan dan bangunan juga merupakan harta tetap yang sewaktu-waktu dapat dipergunakan.
2.1.2. Sumberdaya Peralatan
Peralatan adalah segala keperluan yang digunakan manusia untuk mengubah alam sekitarnya, termasuk dirinya sendiri dan orang lain dengan menciptakan alat-alat sebagai sarana dan prasarana. Oleh karena itu, peralatan merupakan hasil dari teknologi yang diciptakan manusia untuk membuat sesuatu, memakai dan memeliharanya untuk menopang kebutuhan hidup manusia tersebut.
Sumberdaya peralatan merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk memperlancar kegiatan dalam menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Keberhasilan perusahaan ditentukan oleh keseluruhan komponen yang berkaitan dengan keberadaan perusahaan baik yang mempunyai kedudukan di dalam perusahaan maupun diluar perusahaan. Faktor yang berkaitan langsung dengan keberhasilan perusahaan adalah tenaga kerja, sarana dan peralatan serta faktor manajemen yang dapat mendorong terciptanya produktivitas usaha.
Setiap peralatan yang digunakan pasti akan mengalami penyusutan sepanjang tahun dan nilainya akan berkurang sesuai dengan umur alat tersebut. Menghitung nilai penyusutan dapat dilakukan dengan menggunakan metode garis lurus, yaitu besarnya nilai penyusutan sama dengan nilai atau harga barang dikali dengan persentase penyusutan (amortisasi), sedangkan persentase penyusutan (amortisasi) dapat dihitung dengan membagi 100% dengan perkiraan masa produktif suatu barang.
Sumberdaya peralatan yang dimilki oleh Pengusaha ayam potong pada proses produksi yaitu :
1. Ember besar berfungsi sebagai tempat mencuci kedele
2. Tampah (nyiru) berfungsi sebagai tempat memindahkan kedele
3. Kain Saring atau kain blancu berfungsi sebagai alas tempat pencetakan tahu
4. Kain pengaduk berfungsi sebagai pengaduk tahu
5. Cetakan berfungsi untuk mencetak tahu
6. Keranjang berfungsi sebagai tempat memindahkan kedele
7. Rak bambu berfungsi sebagai penutup tungku
8. Tungku atau kompor berfungsi sebagai memasak air tahu yang sudah digiling
9. Alat penghancur (alu) berfungsi untuk menghaluskan tahu
2.1.3. Sumberdaya Manusia
Sumberdaya manusia atau biasa disingkat menjadi SDM merupakan potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan dalam tatanan yang seimbang dan berkelanjutan. Dalam pengertian praktis sehari-hari, SDM lebih dimengerti sebagai bagian integral dari sistem yang membentuk suatu organisasi. Oleh karena itu, dalam bidang kajian psikologi, para praktisi SDM harus mengambil penjurusan industri dan organisasi.
Sumberdaya manusia yang dimaksud adalah tenaga kerja yang merupakan salah satu faktor produksi utama dan selalu ada dalam perusahaan. Tenaga kerja tersebut, baik terlibat langsung maupun tidak langsung merupakan suatu kesatuan komoditas yang saling membutuhkan dalam segala aktivitas kegiatan agrosistem suatu usaha.
Sikap karyawan atau tenaga kerja sangat terkait dengan tata nilaii yang ada didalam masyarakat. Faktor pendidikan, jenis kelamin, umur, keahlian dan latar belakang karyawan suatu perusahaan perlu dipahami dalam pembagian kerja. Prinsipnya dalam manajemen produksi kaitannya dengan pekerja seyogyanya mampu menimbulkan motivasi dan mendorong perkembangan para pekerja untuk lebih maju. Inisiatif pekerja adalah indikator bagi manajemen yang mendorong para pekerjanya.
2.1.4. Sumberdaya Finansial
Sumberdaya finansial merupakan salah satu sumberdaya yang penting sebagai modal kerja yang akan digunakan untuk mendanai proyek. Dengan kata lain sumberdaya finansial adalah segala sesuatu yang dimiliki oleh sebuah pengusaha yang berupa uang tunai maupun dengan barang-barang bernilai dan dapat diuangkan untuk kebutuhan perusahaan sehingga perusahaan dapat berjalan dengan lancar. Sumberdaya ini dapat dimanfaatkan seefisien mungkin melalui perencanaan dan pengelolaan yang tepat, sehingga setiap pengalokasian dana yang digunakan dapat memberikan hasil yang maksimal
2.2. Analisis kinerjaPengusaha
2.2.1. Kinerja Proses
2.2.1.1.Proses Pengadaan Bahan Baku
Bahan baku merupakan faktor produksi yang sangat penting untuk melakukan suatu proses produksi dalam suatu pengusaha ayam potong , karena merupakan sumber bahan pokok untuk diproses menjadi suatu produk yang bermutu. Mutu produk akhir sasngat ditentukan oleh mutu bahan baku yang digunakan dalam proses produksi. Pengadaan bahan baku harus dilakukan terus menurus agar bahan baku selalu tersedia pada saat dibutuhkan. Kriteria bahan baku yaitu dilihat dari fungsinya adalah jika tanpa bahan ini, produksi tidak akan jadi atau tidak akan berfungsi samasekali.
Pemenuhan kebutuhan bahan baku pengusaha ternak ayam potong ini didapat dari koprasi yang berasal dari makasar yang bekerja sama degan pengusaha.
Proses pengadaan bahan baku dilakukan setiap satu atau dua bulan setelah panen dengan cara dikirim oleh koprasi dari makas ke pengusaha. Kondisi bahan baku yang sampai di pengusaha dalam keadaan baik
2.2.1.2.Proses Produksi
Proses diartikan sebagai suatu cara, metode dan teknik bagaimana sesungguhnya sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan dan dana) yang ada diubah untuk memperoleh suatu hasil. Produksi adalah kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan barang atau jasa. proses produksi merupakan kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan faktor-faktor yang ada seperti tenaga kerja, mesin, bahan baku dan dana agar lebih bermanfaat bagi kebutuhan manusia .
Proses produksi dapat diartikan sebagai suatu cara, metode dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan sumberdaya yang ada.
Adapun tahapan-tahapan dari proses produksi yang dilakukan oleh Pengusaha Tahu, yaitu sebagai berikut :
Ø Kedelai yang tersedia dicuci hingga bersih.
Ø Lalu kedelai yang sudah bersih tersebut direndam dalam air selama ± 2-3 jam.
Ø Setelah itu kedelai yang ada siap digiling.
Ø Setelah digiling kedelai yang sudah halus tersebut kita masukkan dalam bak-bak untuk selanjutnya diuapi.
Ø Setelah diuapi selama ± 10 menit kemudian selanjutnya dipindahkan ke kain penyaring dan dibutuhkan waktu ± 10 menit agar sari kedelai dapat terpisah dari ampasnya. Untuk mempermudah proses terpisahnya sari kedelai dari ampasnya maka ditambahkan air sambil terus diaduk-aduk.
Ø Ampas tahu akan tetap bertahan dalam kain sementara sari dari kedelai akan jatuh kedalam bak yang sudah disiapkan dibawahnya.
Ø Ampas tahu yang tertahan pada kain lalu dibuang, sedangkan sari tahu dalam bak akan diolah lebih lanjut untuk menjadi tahu.
Ø Sari tahu yang ada dalam bak kemudian akan ditambahkan biang/bibit (air tahu) secara terus menerus sambil terus diaduk untuk memisahkan sari kedelai dari air biasa. Penambahan biang/bibit (air tahu) bertujuan agar sari kedelai dalam bak dapat mengendap dengan baik.
Ø Proses inipun memakan waktu ± 20 menit sampai air akan terpisah dari sarinya. Setelah itu air biasa tersebut akan disedot hingga terpisah dari sari kedelai. Air ini tidak selanjutnya dibuang, melainkan digunakan untuk menjadi biang/bibit (air tahu) pada proses diatas.
Ø Setelah yang tersisa dalam bak hanyalah sari kedelai, maka sari-sari tersebut akan diangkat dengan menggunakan penyaringan untuk seterusnya dimasukkan ke cetakan tahu.
Ø Setelah dirasa sudah cukup maka cetakan kemudian ditutup. Proses ini berfungsi untuk memberi bentuk pada produk tahu yang nantinya diasilkan sekaligus unutk meniriskan air yang masih tertempel pada sari kedelai tersebut.
Ø Lama penyimpanan dalam cetakan ± 15 menit. Jika kita ingin tahu yang lebih keras kita tinggal menambah waktu pendiaman dalam cetakan.
Ø Kemudian tahu yang sudah tercetak tersebut akan di rebus ± 1 jam, hal ini dilakukan untuk mengurangi kelembekan tahu. Sekaligus untuk menjadikan tahu lebih tahan lama.
2.2.1.3.Proses Pemasaran
Pemasaran adalah suatu proses social dan manajerial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan prosuk yang bernilai kepada pihak lain (Kotler, 1997).
Proses pemasaran merupakan kegiatan kelanjutan dari proses produksi. Kegiatan pemasaran bertujuan agar dana yang telah diinvestaskan dalam kegiatan produksi dapat diperoleh kembai dengan mendapatkan sejumlah dana dari hasil penjualan sebagai imbalan investasi yang dilakukan selama ini.
Kegiatan yang dilakukan pegusaha Tahu adalah penjualan barang langsung dan tidak langsung. Penjualan langsung dilakukan kepada masyarakat umum yang sewaktu-waktu langsung ke pengusaha untuk membeli produk tanpa melalui perantara.
Sasaran pemasaran Pegusaha Tahu ditujukan kepada masyarakat. Adapula yang menilai sebuah produk dari segi prestise, dimana mereka memilih produk berkualitas tinggi dengan tujuan agar dapat menyesuaikan dengan kelas sosialnya. Mereka rata-rata memiliki tingkat penghasilan yang relatif tinggi atau pun tingkat pendidikan yang tinggi.
Salah satu dari variabel yang dapat dikontrol oleh perusahaan adalah bauran pemasaran (marketing mix), yaitu kombinasi dari berbagai variabel pemasaran yang dapat dikendalikan oleh perusahaan untuk menghasilkan tanggapan yang diinginkan dalam penjualan, sehingga akan dicapai volume penjualan dengan biaya yang memungkinkannya mencapai tingkat laba yang diinginkan.
Secara garis besar keempat variabel tersebut dapat dijelaskan melalui penjelasan masing-masing sebagai berikut :
ü Produk (Product)
Produk dimaksudkan sebagai segala sesuatu yang berwujud yang ditawarkan oleh perusahaan kepada konsumen untuk diperhatikan, dibeli, dipakai dan untuk dikonsumsi.
Produk merupakan salah satu unsur terpenting yang dapat dikendalikan oleh manajer pemasaran dan dalam banyak hal, merupakan alat yang efektif untuk mencapai suatu sasaran dan tujuan perusahaan. Jadi, perusahaan dapat memenuhi berbagai kebutuhan konsumen dan dapat menentukan berapa banyak produk yang harus diproduksi. Produk itu dapat diubah dengan berbagai cara untuk mencapai sasaran perusahaan yaitu perubahan warna, bentuk dan lain sebagainya.
Produk adalah suatu sifat yang kompleks, baik itu dapat diraba maupun tidak dapat diraba termasuk pembungkus, warna, harga, prestise perusahaan dan pengecer, pelayanan perusahaan dan pengecer yang diterima oleh pembeli untuk memuaskan keinginan dan kebutuhannya.
Produk yang disalurkan langsung ke konsumen akhir hanya sebesar 5%. Sedangkan penjualan secara tidak langsung melalui pedagang perantara yang kemudian menyalurkan produk ke konsumen akhir.
ü Harga (Price)
Harga merupakan sejumlah uang yang harus dibayar oleh konsumen untuk mendapatkan produk tersebut. Harga memegang peranan penting dalam kegiatan pemasaran, karena merupakan faktor penentu dari permintaan pasar untuk produk tersebut. Dengan demikian, harga suatu produk dapat mempengaruhi posisi persaingan dan cakupan pasar, serta program pemasaran pada suatu perusahaan.
Harga merupakan satuan moneter atau ukuran lainnya (termasuk barang dan jasa lainnya) yang ditentukan agar memperoleh hak kepemilikan atau penggunaan barang atau jasa.
Harga adalah sejumlah uang dan atau barang yang dibutuhkan untuk mendapatkan kombinasi dari barang yang lain yang disertai dengan pemberian jasa. Harga merupakan elemen dari bauran pemasaran yang bersifat fleksibel, dimana suatu saat harga akan stabil dalam waktu tertentu tetapi dalam seketika harga dapat juga meningkat atau menurun dan juga merupakan satu-satunya elemen yang menghasilkan pendapatan dari penjualan.
ü Tempat atau Distribusi (Place)
Tempat berarti kegiatan perusahaan yang membuat produk tersedia bagi konsumen sasaran. Tempat sangat berkaitan erat dengan distribusi. Distribusi menunjukkan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan agar produk dapat diperoleh dan tersedia bagi konsumen sasaran.
Pada umumnya setiap perantara yang melakukan usaha menyalurkan barang atau jasa kepada konsumen atau pemakai akhir membentuk suatu tingkatan saluran, sehingga baik produsen maupun konsumen atau pemakai akhir merupakan bagian dari setiap saluran.
Keputusan penentuan lokasi dan saluran yang digunakan untuk memberikan jasa kepada pelanggan melibatkan pemikiran tentang bagaimana cara mengirimkan atau menyampaikan jasa kepada pelanggan dan dimana hal tersebut akan dilakukan. Ini harus dipertimbangkan karena dalam bidang jasa sering kali tidak dapat ditentukan tempat dimana akan diproduksi dan dikonsumsi pada saat bersamaan.
Saluran distribusi dapat dilihat sebagai kumpulan organisasi yang saling bergantungan satu sama lainnya yang terlibat dalam proses penyediaan sebuah produk/pelayanan untuk digunakan atau dikonsumsi. Penyampaian dalam perusahaan jasa harus dapat mencari agen dan lokasi untuk menjangkau populasi yang tersebar luas. Sebagai salah satu variabel marketing mix, place / distribusi mempunyai peranan yang sangat penting dalam membantu perusahaan memastikan produknya, karena tujuan dari distribusi adalah menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen pada waktu dan tempat yang tepat.
Kegiatan distribusi yang dilakukan pengusaha Tahu adalah penjualan langsung dan tidak langsung. Penjualan langsung dilakukan kepada masyarakat umum yang sewaktu-waktu langsung ke perusahaan untuk membeli produk sirup markisa tanpa melalui prantara. Produk yang disalurkan langsung ke konsumen akhir hanya sebesar 5%. Sedangkan penjualan secara tidak langsung melalui pedagang perantara yang kemudian menyalurkan produk ke konsumen akhir. Adapun produk yang disalurkan melalui pengecer sekitar 95% dengan jumlah pelanggan tetap yaitu sebanyak ± 30 toko.
ü Promosi (Promotion)
Promosi merupakan salah satu variabel dalam marketing mix yang sangat perlu dilaksanakan oleh perusahaan dalam memasarkan barang dan jasanya. Dengan promosi, perusahaan dapat menyampaikan informasi kepada konsumen berupa pengetahuan tentang produk yang meliputi keunggulan dan kekurangan dari produk tersebut dibandingkan dengan produk pesaing sehingga mereka tertarik untuk melakukan pembelian.
Menurut Philip Kotler promotion tools didefinisikan sebagai berikut :
1. Advertising (Periklanan) Suatu promosi barang atau jasa yang sifatnya non personal dilakukan oleh sponsor yang diketahui.
2. Personal selling (Penjualan perorangan) Penjualan perorangan yang dilakukan oleh para wiraniaga yang mencoba dan membujuk untuk melakukan penjualan sekaligus.
3. Sales promotion (Promosi penjualan) Suatu kegiatan yang dimaksud untuk membantu mendapatkan konsumen yang bersedia membeli produk atau jasa suatu perusahaan.
4. Public relation (Publisitas) Suatu kegiatan pengiklanan secara tidak langsung dimana produk atau jasa suatu perusahaan disebarluaskan oleh media komunikasi.
Promosi adalah kegiatan pemasaran yang sangat penting bagi perusahaan untuk memperkenalkan produknya kepada konsumen, sedangkan distribusi merupakan proses pendistribusian produk dan jasa yang sesuai dan terorganisir sehingga terjadi keefektifan penjualan (Rizal, 2008).
Promosi yang dilakukan oleh pengusaha Tahu tidak banyak. Dalam hal ini perusahaan lebih banyak melakukan personal selling atau menjual sendiri dan tidak mengiklankan produknya. Di mana perusahaan melakukan kontak langsung dengan para calon pembeli. Dengan adanya kontak langsung ini diharapkan terciptanya hubungan atau interaksi yang baik antara perusahaan dengan pembelinya. Pengusaha hanya mempromosikan produknya dari mulut ke mulut
2.2.2. Kinerja Hasil
2.2.2.1.Analisis Biaya
Menurut Harnanto (1992), biaya adalah sebagai berikut: Beban (expenses) adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk arus keluar atau berkurangnya aktiva atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkui pembagian kepada penanam modal. Dalam arti luas, biaya (cost) adalah jumlah uang yang dinyatakan dan sumber-sumber (ekonomi) yang dikorbankan terjadi dan akan terjadi untuk rnendapatkan sesuatu atau mencapai tujuan tertentu. Sedangkan menurut lAl/SAK (1994), pengertian biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu, sehingga biaya dalam arti luas diartikan sebagai pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva.
Biaya memegang peranan penting dalam mengembangkan suatu usaha. Besarnya biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan barang dan jasa akan menentukan besar kecilnya harga dari produk yang dihasilkan. Analisis biaya bertujuan untuk melihat berapa besarnya biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam periode tertentu.
Keberhasilan suatu perusahaan dinilai dari jumlah pendapatan yang diperoleh dalam jangka waktu tertentu. Pendapatan dalam pengertian umum adalah hasil produksi dalam bentuk materi dan dapat kembali digunakan untuk memenuhi kebutuhan akan sarana dan prasaana produksi. Pada umumnya biaya yang dikeluarkan dalam setiap usaha terbagi dua yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya tetap (variabel cost).
ü Biaya Tetap (fixed cost)
Biaya tetap atau fixed cost adalah biaya yang dikeluarkan perusahaan yang sifatnya tidak terpengaruh terhadap besar kecilnya jumlah produksi. Biaya tetap merupakan biaya yang sifatnya tidak terpengaruh oleh besarnya produksi, terdiri dari pajak, penyusutan alat, bunga pinjaman, sewa tanah, dan lain-lain.
Biaya tetap memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Biaya yang jumlah totalnya tetap konstan tidak dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan atau aktivitas sampai dengan tingkatan tertentu.
2. Pada biaya tetap, biaya satuan (unit cost) akan berubah berbanding terbalik dengan perubahan volume kegiatan, semakin tinggi volume kegiatan semakin rendah biaya satuan, semakin rendah volume kegiatan semakin tinggi biaya satuan.
ü Biaya Variabel (variabel cost)
Biaya variabel atau variabel cost adalah biaya yang dikeluarkan perusahaan yang berubah-ubah dan berpengaruh terhadap besar kecilnya jumlah produksi.
Biaya variabel memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Biaya yang jumlah totalnya akan berubah secara sebanding
(proportional) dengan perubahan volume kegiatan, semakin besar
volume kegiatan semakin tinggi jumlah total biaya variabel, semakin
rendah volume kegiatan semakin rendah jumlah total biaya variabel.
(proportional) dengan perubahan volume kegiatan, semakin besar
volume kegiatan semakin tinggi jumlah total biaya variabel, semakin
rendah volume kegiatan semakin rendah jumlah total biaya variabel.
2. Pada biaya variabel, biaya satuan tidak dipengaruhi oleh perubahan
volume kegiatan, jadi biaya satuan konstan.
volume kegiatan, jadi biaya satuan konstan.
2.2.2.2. Analisis Pendapatan
Pendapatan dalam pengertian umum adalah hasil produksi yang diperoleh dalam bentuk materi dan dapat dibelanjakan kembali guna memenuhi akan sarana produksi dan kebutuhan lainnya. Pada umumnya
pendapatan ini diperoleh dari hasil penjualan produk. Pendapatan adalah keuntungan atau hasil bersih yang diperoleh petani dari hasil produksinya (Daniel, 2004).
Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (1999) menyebutkan bahwa pendapatan adalah: “Arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama satu periode, bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal”.
Menurut Suwardjono (1984) dalam buku teori Akuntansi Perekayasaan Akuntansi Keuangan bahwa dari aspek fisik pendapatan dapat dikatakan sebagai hasil akhir suatu aliran fisik dalam proses menghasilkan laba. Aspek moneter memberikan pengertian bahwa pendapatan dihubungkan dengan aliran masuk aktiva yang berasal dari kegiatan operasi perusahaan dalam arti luas. Pendapatan diukur dengan nilai wajar yang dapat diterima, jumlah pendapatan biasanya ditentukan oleh persetujuan antara perusahaan dan pembeli yang diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima perusahaan dikurangi jumlah discount dagang dan rabat volume yang diperbolehkan perusahaan, umumnya berbentuk kas atau setara kas.
Bila arus masuk dari kas atau setara kas ditangguhkan nilai wajar dari imbalan tersebut mungkin kurang dari jumlah nominal dari kas yang diterima atau yang dapat diterima.
Bila barang atau jasa dipertukarkan untuk barang atau jasa dengan sifat nilai yang sama maka pertukaran tidak dianggap sebagai transaksi yang mengakibatkan pendapatan. Dan bila barang dijual atau jasa diberikan untuk dipertukarkan dengan barang dan jasa yang tidak serupa pertukaran tersebut dianggap sebagai transaksi yang mengakibatkan pendapatan. Pendapatan tersebut diukur pada nilai wajar dari barang atau jasa yang diserahkan, disesuaikan dengan jumlah kas atau setara kas yang ditransfer (Anonim 8, 2009).
Potensi yang dimiliki oleh perusahaan sehingga dapat terus beroperasi. Potensi yang dimiliki oleh perusahaan sehingga dapat terus produktif adalah konsistensi terhadap mutu produk sirup markisa yang dihasilkan. Sehingga menumbuhkan brand image yang baik di mata konsumen, dimana adanya kepercayaan konsumen terhadap mutu produk yang dihasilkan oleh perusahaan mengakibatkan timbulnya pangsa pasar tersendiri bagi produk sirup markisa yang ditawarkan. Untuk menghasilkan produk yang berkualitas dibutuhkan tenaga kerja yang berpengalaman, sehingga dibutuhkan proses pendidikan dan pelatihan untuk menunjang upaya peningkatan mutu perusahaan.
2.3. Aspek Dampak Lingkungan
Suatu dampak adalah setiap perubahan yang terjadi dalam lingkungan akibat adanya aktivitas manusia. Dalam peraturan pemerintah diartikan sebagai perubahan lingkungan. Dampak adalah perbedaan antara kondisi lingkungan yang diperkirakan aka nada tanpa adanya pembangunan (Sumarwanto, 2001).
Pengendalian dampak lingkungan merupakan hal yang harus diperhatikan dari suatu agrosistrem. Agrosistem yang baik akan selalu memperhatikan lingkungan yang berada disekitar agrosistem itu. Pembuatan pupuk organik di BBPP Batangkaluku dampak lingkungan yang dihasilkan hanya limbah yang berasal dari kotoran ayam potong yang digunakan dalam proses produksi, dimana kotoran ini menyebabkan pencemaran lingkungan.
2.4. Peta Kinerja Agrosistem
Peta penampilan kinerja agrosistem dimaksudkan untuk memberikan gambaran pengalokasia sumberdaya yang dimiliki oleh perusahaan ke berbagai sub system usaha agrosistem. Disaping itu peta penampakan kinerja agrosistem juga dapat memberikan deskripsi tentang arus uang, barang dan jasa serta informasi di lingkungan perusahaan agrosistem baik antara perusahaan agrosistem degan pihak-pihak luar maupun sebaliknya.
|
| ||||||||||||||
![]() ![]() | |||||||||||||||
![]() | |||||||||||||||
![]() |
Gambar 1. Peta penampilan karya agrosistem pada pengusaha tahu di Desa Balete, Kecamatan Sukamaju, Kabupaten Luwu Utara
BIGIAN TIGA
FOKUS KAJIAN
3.1. Mengenal tahu
Siapa yang tidak kenal tahu? Makanan yang biasanya dijadikan lauk pauk dan makanan selingan ini selain harganya murah meriah juga digemari oleh masyarakat banyak. Tahu yang dikonsumsi ini memiliki berbagai jenis nama dan macamnya. Ada tahu Bandung, tahu China, tahu Jambi, tahu Goreng dan tahu Sumedang. Masyarakat sangat gemar dengan lauk pauk dari bahan kacang kedelai. Awal tahun tahu mulai di gemari, masyarakat mulai gusar dengan susah dan mahalnya harga lauk pauk bahan kedelai di pasar tradisional maupun di mal-mal. Tahu merupakan salah satu pangan yang digemari oleh masyarakat. Secara tidak langsung, keberadaan pangan berbahan kedelai berdampak terhadap pola makan dan ekonomi masyarakat.
Tahu, memiliki kandungan kalori protein nabati yang cukup tinggi, demikian juga kandungan lemak, vitamin dan mineral. Adanya industri tahu, memberikan peluang bisnis dan penyerapan tenaga kerja. Pemerataan kesempatan berusaha cukup berarti dengan berdirinya industri ini. Industri kecil pembuatan tahu cukup memiliki peran di sisi ekonomi masyarakat desa. Industri tahu memiliki interaksi ekonomi yang luas. Interaksi tersebut meliputi petani kedelai, kayu bakar, petani garam, petani bumbu kunyit, yang berimbas terhadap industri perkakas tahang, jamrong, tambir, ember dan drum. Disamping itu, industry kolektif artinya berkelompok. Dengan lokasi yang strategis di lingkungan kampung, mendekatkan industri dengan ketersediaan tenaga kerja di kampung tersebut. Industri tahu yang telah lama berdiri, memiliki sisi negatif terhadap lingkungan. Limbah cair sebagai produk sampingan masih belum dikelola dengan baik. Alhasil, pencemaran lingkungan terjadi. Hal ini dirasakan masyarakat dengan mulai tercemarnya air tanah, air yang digunakan sebagai kebutuhan hidup. Permasalahan ini perlu penanganan dengan baik.
Tahu merupakan salah satu makanan tradisional yang populer. Selain rasanya enak, harganya murah dan nilai gizinya pun tinggi. Bahan makanan ini diolah dari kacang kedelai. Meskipun berharga murah dan bentuknya sederhana, ternyata tahu mempunyai mutu yang istimewa dilihat dari segi gizi. Hasil-hasil studi menunjukkan bahwa tahu kaya protein bermutu tinggi, tinggi sifat komplementasi proteinnya, ideal untuk makanan diet, rendah kandungan lemak jenuh dan bebas kholesterol, kaya mineral dan vitamin (Koswara, 2006).
3.2. Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan tahu adalah:
Ø Kedelai
Kedelai merupakan bahan utama dalam pembuatan tahu. Kedelai yang digunakan adalah kedelai jenis Bola I.
Ø Air
Hampir semua tahapan dalam pembuatan tahu membutuhkan air dari proses perendaman, pencucian, penggilingan, pemasakan, dan perendaman tahu yang sudah jadi sehingga dibutuhkan air dalam jumlah banyak. Air yang digunakan di berasal dari air tanah atau air artesis.
Ø Asam Cuka
Asam Cuka berfungsi untuk mengedapkan atau memisahkan air dengan konsentrat tahu. Asam cuka mengandung cuka dan garam sehingga bersifat digunakan secara berulang-ulang.
Ø Perendaman
Pada tahapan perendaman ini, kedelai direndam dalam sebuah bak perendam yang dibuat dari semen. Langkah pertama adalah memasukan kedelai ke dalam karung plastik kemudian diikat dan direndam selama kurang lebih 3 jam (untuk 1 karung berisi 15 kg biji kedelai). Jumlah air yang dibutuhkan tergantung dari jumlah kedelai, intinya kedelai harus terendam semua. Tujuan dari tahapan perendaman ini adalah untuk mempermudah proses penggilingan sehingga dihasilkan bubur kedelai yang kental. Selain itu, perendaman juga dapat membantu mengurangi jumlah zat antigizi (Antitripsin) yang ada pada kedelai. Zat antigizi yang ada dalam kedelai ini dapat mengurangi daya cerna protein pada produk tahu sehingga perlu diturunkan kadarnya.
Ø Pencucian kedelai
Proses pencucian merupakan proses lanjutan setelah perendaman. Sebelum dilakukan proses pencucian, kedelai yang di dalam karung dikeluarkan dari bak pencucian, dibuka, dan dimasukan ke dalam ember-ember plastik untuk kemudian dicuci dengan air mengalir. Tujuan dari tahapan pencucian ini adalah membersihkan biji-biji kedelai dari kotoran-kotoran supaya tidak mengganggu proses penggilingan dan agar kotoran-kotoran tidak tercampur ke dalam adonan tahu. Setelah selesai proses pencucian, kedelai ditiriskan dalam saringan bambu berukuran besar.
Ø Penggilingan
Proses penggilingan dilakukan dengan menggunakan mesin penggiling biji kedelai dengan tenaga penggerak dari motor lisrik. Tujuan penggilingan yaitu untuk memperoleh bubur kedelai yang kemudian dimasak sampai mendidih. Saat proses penggilingan sebaiknya dialiri air untuk didapatkan kekentalan bubur yang diinginkan.
Ø Perebusan/Pemasakan
Proses perebusan ini dilakukan di sebuah bak berbentuk bundar yang dibuat dari semen yang di bagian bawahnya terdapat pemanas uap. Uap panas berasal dari ketel uap yang ada di bagian belakang lokasi proses pembuatan tahu yang dialirkan melalui pipa besi. Bahan bakar yang digunakan sebagai sumber panas adalah kayu bakar yang diperoleh dari sisa-sisa pembangunan rumah. Tujuan perebusan adalah untuk mendenaturasi protein dari kedelai sehingga protein mudah terkoagulasi saat penambahan asam. Titik akhir perebusan ditandai dengan timbulnya gelembung-gelembung panas dan mengentalnya larutan/bubur kedelai. Kapasitas bak perebusan adalah sekitar 7.5 kg kedelai.
Ø Penyaringan
Setelah bubur kedelai direbus dan mengental, dilakukan proses penyaringan dengan menggunakan kain saring. Tujuan dari proses penyaringan ini adalah memisahkan antara ampas atau limbah padat dari bubur kedelai dengan filtrat yang diinginkan. Pada proses penyaringan ini bubur kedelai yang telah mendidih dan sedikit mengental, selanjutnya dialirkan melalui kran yang ada di bagian bawah bak pemanas. Bubur tersebut dialirkan melewati kain saring yang ada diatas bak penampung.
Setelah seluruh bubur yang ada di bak pemanas habis lalu dimulai proses penyaringan. Saat penyaringan secara terus-menerus dilakukan penambahan air dengan cara menuangkan pada bagian tepi saringan agar tidak ada padatan yang tersisa di saringan. Penuangan air diakhiri ketika filtrat yang dihasilkan sudah mencukupi. Kemudian saringan yang berisi ampas diperas sampai benar-benar kering. Ampas hasil penyaringan disebut ampas yang kering, ampas tersebut dipindahkan ke dalam karung. Ampas tersebut dimanfaatkan untuk makanan ternak ataupun dijual untuk bahan dasar pembuatan tempe gembus/bongkrek.
Ø Pengendapan dan Penambahan Asam Cuka
Dari proses penyaringan diperoleh filtrat putih seperti susu yang kemudian akan diproses lebih lanjut. Filtrat yang didapat kemudian ditambahkan asam cuka dalam jumlah tertentu. Fungsi penambahan asam cuka adalah mengendapkan dan menggumpalkan protein tahu sehingga terjadi pemisahan antara whey dengan gumpalan tahu. Setelah ditambahkan asam cuka terbentuk dua lapisan yaitu lapisan atas (whey) dan lapisan bawah (filtrat/endapan tahu). Endapan tersebut terjadi karena adanya koagulasi protein yang disebabkan adanya reaksi antara protein dan asam yang ditambahkan. Endapan tersebut yang merupakan bahan utama yang akan dicetak menjadi tahu. Lapisan atas (whey) yang berupa limbah cair merupakan bahan dasar yang akan diolah menjadi Nata De Soya.
Ø Pencetakan dan Pengepresan
Proses pencetakan dan pengepresan merupakan tahap akhir pembuatan tahu. Cetakan yang digunakan adalah terbuat dari kayu berukuran 70x70cm yang diberi lubang berukuran kecil di sekelilingnya. Lubang tersebut bertujuan untuk memudahkan air keluar saat proses pengepresan. Sebelum proses pencetakan yang harus dilakukan adalah memasang kain saring tipis di permukaan cetakan. Setelah itu, endapan yang telah dihasilkan pada tahap sebelumnya dipindahkan dengan menggunakan alat semacam wajan secara pelan-pelan. Selanjutnya kain saring ditutup rapat dan kemudian diletakkan kayu yang berukuran hampir sama dengan cetakan di bagian atasnya. Setelah itu, bagian atas cetakan diberi beban untuk membantu mempercepat proses pengepresan tahu. Waktu untuk proses pengepresan ini tidak ditentukan secara tepat, pemilik mitra hanya memperkirakan dan membuka kain saring pada waktu tertentu. Pemilik mempunyai parameter bahwa tahu siap dikeluarkan dari cetakan apabila tahu tersebut sudah cukup keras dan tidak hancur bila digoyang.
Ø Pemotongan tahu
Setelah proses pencetakan selesai, tahu yang sudah jadi dikeluarkan dari cetakan dengan cara membalik cetakan dan kemudian membuka kain saring yang melapisi tahu. Setelah itu tahu dipindahkan ke dalam bak yang berisi air agar tahu tidak hancur. Sebelum siap dipasarkan tahu terlebih dahulu dipotong sesuai ukuran. Pemotongan dilakukan di dalam air dan dilakukan secara cepat agar tahu tidak hancur.
BAGIAN EMPAT
ANALISIS MASALAH PENGEMBANGAN AGROSISTEM
Analisis masalah pengembangan agrosystem merupakan suatu rangkaiaan kegiatan analisis yang bertujuan untuk mengenalai, mengurangi, dan menganalisis permasalaan yang di tentukan agrosistem kasus serta mengetahui hubungan antara sebap akibat antara masalah.
Masalah adalah situasi yang memerlukan seseorang bertindak sepenuhnya atau sebagian sebagai tanggu jawab. Persoalan yaitu masalah atau aspek tertentu yang di temukan pada agro system kasus dan memerlukan suatu tindakan perbaikan kendala yaitu suatu masalah yang tidak dapat di lakukan suatu tindakan kegiatanperbaikan namun dapat di berikan perlakuan tertentu untuk mengurangi akibat yang akan di timbulkan.
Indentifikasi masalah. Mengenal masalah, dan menganalisis masalah yang ada maka kita dapat melihat situasi dalam agrosistem kasus yang memerlukan di ambilnya suatu tindakan . bagian ini membahas tentang analisis masalah dalam usaha pengembangan suatu agrosistem di bagi dalam tiga sub bagian yaitu penetapan posisi penilaian, identifikasi masalah dan hubungan akibat antara masalah ( strukturisasi masalah )
4.1. Penetapan Posisi Penilaian
Tindakan mempersoalkan situasi yang kurang atau tidak mendukung kelancaran usaha selama itu bertujuan untuk memudahkan menemukan jenis persoalan yang di hadapi serta membutuhkan menemukan jenis persoalan yang di hadapi serta memudahkan menemukan alternatip pemecahanya. Penetapan posisi penilaian analisis ini sagat penting artinya mengigat yang di dekati dan diinterprestasi pada sudut pandang yang berbeda, degan degan kata lain posisi penilaian memberikan kejelasan dari mana sisi mana persoalan akan di selesaikan.
Pada posisi penulisan dalam menetapkan penilaian adalah sebagai maneger pengusaha di mana penetapan posisi ini di dasarkan pada berbagai permasalahan terutama mengenai proses pemeliharaan guna meningkatkan produksi pengusaha. Pada situasi seperti ini penulis berusaha menghimpun seluruh aspirasi yang ada kemudian disingkronkan terhadap situasi agrosistem yang bersangkutan kemudian penulis berupaya untuk menemukan beberapa alternatip penyelesaian.
4.2. Identifikasi Masalah
Problematisasi merupakan upaya untuk mencari dan menemukan berbagai persoalan yang menghambat kegiatan usaha yang di jalani selama ini. Problematisasi ini dimulai degan mengidentipikasi masalah yang terjadi dalam pengusaha yang bertujuan untuk mengenai masalah itu yang di temukan melalui pengumpulan data., kemudian masalah itu di buat dalam struktur untuk mencari hubungan sebab akibat antara masalah yang satu degan masalah yang lain. Sedangkan strukturisasi ini bertujuan untuk lebih memudahkan tindakan perbaikan yang akan di lakukan untuk mengatasi masalah itu.
Beberapa masalah yang timbul dalam perusahaan kasus di tuangkan dalam pengusaha kasus dituangkan dalam
Table 1 Matrik masalah , Fakta, pada Pengusaha Tahu, Desa balete, Kecamatan Sukamaju, Kabupaten Luwu Utara 2012
| NO | STANDAR | FAKTA | MASALAH |
| 1 | Bahan baku | Bahan baku di peroleh dari pedangang ( kedele ) | Terkadang lambat, karna perjalanan membawa bahan baku sering macet |
| 2 | Karyawan 7 orang | Bekerja membuat tahu | Membagi tugas dalam memproduksi tahu |
| 3 | Produksi | Produksi yang cukup berkualitas | Tidak ada |
| 5 | Pemasaran | Di jual di pasar | Pedangang yang tidak tetap |
Sumber : Analisis Penulis 2012
Table 2 Matrik masalah pada Pengusaha Tahu, Desa Balete, Kecamatan Sukamaju, Kabupaten Luwu Utara
| No | Masalah |
| 1 | Bahan baku yang kurang berkualitas |
| 2 | Biaya produksi kurang |
| 3 | Kualitas Bahan Baku kurang |
| 4 | Masalah utama |
| | Bahan baku yang kurang berkualitas mempengaruhi produksi tahu |
| 5 | Akibat |
| | Pemasaran kurang |
Sumber : Analisis Penulis 2012
4.3. Struktur masalah
setelah melakukan identifikasi dan pengalaman masalah pada pengusaha kasus maka dapat di tarik kesimpulan bahwa yang menjadi permasalahan utama adalah pemeliharaan ayam potong yang kurang. Akibat yang di timbulkan adalah turunnya kualitas produksi yang di hasilkan. Namun untuk menuju kearah tersebut tentunya perlu di telusuri masalah-masalah demi pencapaian kea rah tersebut.
Struktur masalah dari pengusaha kasus yaitu :
1. Bahan baku kurang berkualitas
Merupakan akar penyebap terjadinya masalah antaranya yaitu kualitas bahan baku mempengaruhi produksi.
2. Biaya Produksi kurang
Menyebabkan penyebab terjadinya masalah utama dan merupakan masalah antara yang berdampak langsung degan masalah utama yaitu menyebabkan menurunnya hasil produksi
3. Kualitas bahan baku yang kurang
Menyebabkan menyebapkan kualitas produksi yang kurang
4. Bahan baku yang kurang berkualitas mempengaruhi produksi tahu
Merupakan masalah utama yang ada dalam pengusaha dan merupakan inti dari permasalaan yang ada
5. Berkurang pemasaran
Merupakan akibat dari masalah utama
Untuk mengetahui lebih jelas hubumgan sebab akibat antara masalah dapat dilihat pada struktur berikut
![]() | |||||||
![]() | |||||||
![]() | |||||||
Gambar 2. pohon persoalan ( hubungan sebab akibat ) pada Pengusaha Tahu di Desa Balete, Kecamatan Sukamaju, Kabupaten Luwu Utara, 2012
BAGIAN LIMA
ANALISIS SASARAN PENGEMBANGAN AGROSISTEM
Perumusan analisis sasaran di dasarkan pada analisa yang menyentuh terhadap pengaruh factor-faktor lingkungan ekternal dan internal pengusaha. Lingkungan esternal pengusaha. Lingkungan eksternal yang setiap saat dapat berubah degan cepat sehingga melahirkan berbagai peluang dan ancaman baik datang dari pesaing utama maupun dari saing bisnis yang senantiasa merubah. ( Rangkutil F.,2001 )
Sasaran merupakan ukuran bagi suatu keputusan, yaitu suatu perincian kusus yang harus di capai dalam penetapan keputusan. Sasaran ini ditetapkan setelah kita menyatakan tujuan dari suatu keputusan menyetujui tingkatan yang harus dicapai, jadi sasaran dapat diartikan sebagai ukuran yang jelasmengenai ukuran yang igin dicapai, sebab degan hanya ukuran yang jelas kita dapat mengambil pilihan yang beralasan logis . hal tersebut dikerjakan sebelum membahas alternative tindakan yang perlu dilakukan.
Menurut Kepner dan Tragoe ( 1992 ), bahwa sasaran merupakan kriteria bagi keputusan. Sasaran di tetapkan setelah menetapkan tujuan dari keputusan dan menyetujui tindakan yang harus dicapai. Hal ini dikerjakan sebelum membahas alternatif. Sasaran adalah ukuran yang jelas mengenai tujuan yang igin dicapai, sebab degan hanya ukuran yang jelas mengenai tujuan yang igin dicapai, sebap degan hanya ukuran yang jelas kita dapat mengambil pilihan yang beralasan.
5.1. Penetapan sasaran
Masalah masalah yang telah dipaparkan sebelum akan di positipkan untuk memperoleh sasaran yang igin dicapai oleh pengusaha kasus. Sasaran yang igin dicapai oleh pengusaha dapat dilihat pada table :
Table 3 Matrik antara masalah dan sasaran pada Pengusaha tahu di Desa Balete, Kecamatan Sukamaju, Kabupaten Luwu Utara
| No | Masalah |
| 1 | Bahan baku yang kurang berkualitas |
| 2 | Biaya produksi kurang |
| 3 | Kualitas Bahan Baku kurang |
| 4 | Masalah utama |
| | Bahan baku yang kurang berkualitas mempengaruhi produksi tahu |
| 5 | Akibat |
| | Pemasaran kurang |
Sumber : Analisis Penulis 2012
5.2. Strukturisasi sasara
Setelah sasaran yang ingin dicapai, maka berikut akan dijelaskan mengenai hubungan antara tindakan sasaran yang dilaksanaan terhadap hasil dari sasaran tindakan tersebut.
Adapun hubungan tindakan sasaran di pengusaha kasus yaitu sebagai berikut :
1. Bahan baku berkualitas
Merupakan tindakan yang harus diselesaikan oleh pengusaha untuk mencapai sasaran yaitu bahan baku yang berkualitas.
2. Biaya produksi bertambah
Merupakan tindakan yang harus diselesaikan oleh pengusaha untuk memperbaiki masalah utama yaitu bertambahnya biaya
3. Kualitas bahan baku yang bertambah
Merupakan tindakan yang harus diselesaikan oleh pengusaha untuk mencapai sasaran antara yaitu meningkatkan produksi
4. Kualitas Bahan baku mempengaruhi produksi tahu
Merupakan sasaran utama yang ada dalam pengusaha
5. Meningkatnya pemasaran
Merupakan hasil dari sasaran dan hal ini merupakan hasil dari keseluruhan sasaran yang ingin dicapain oleh perusahan.
5.3. Diagram pohon analisis sasaran
Diagram pohon analisis sasaran dimaksudkan untuk melihat hubungan antara tindakan dan dampak dari setiap sasaran yang tepat. Untuk lebih jelas mengenai hubungan tindakan-hasil antara sasaran pengembangan agrosistem dapat dilihat pada gambar 3.
![]() | |||||||
![]() | |||||||
![]() | |||||||
Gambar 3 pohon persoalan ( hubungan tindakan hasil ) pada Pengusaha Tahu di Desa Balete, Kecamatan Sukamaju, Kabupaten Luwu Utara, 2012
BAGIAN ENAM
ANALISIS SASARAN TINDAKAN PENGEMBANGAN AGROSISTEM
6.1. Tindakan alternatif persasaran
Alternatif tindakan merupakan hasil yang diperoleh dari evaluasi setiap alternatif yang tersedia terdapap kriteria-kriteria yang ditetapkan. Pada saat evaluasi, setiap alternatif yang tidak dapat memenuhi kriteria-kriteria yang ditetapkan segera digeser dari analisis alternatif. Pemeliharaan alternatif tersebut adalah degan mengunakan resiko paling kecil yang yang akan diterima perusahaan dan tindakan menimbulkan kesulitan baru.
Analisis tindakan merupakan hasil yang diperolehan dari evaluasi setiap alternatif yang tersedia terhadap kriteria-kriteria yang telah ditetapkan. Pada saat evaluasi, setiap alternatip yang tidak dapat memenuhi kriteria yang ditetapkan segera gugur dari analisis alternatip. Berguna untuk melihat beberapa kemungkinan pilihan (alternatif ) hubungan tindakan ( rangkaian sasaran ) dianalisis sasaran yang mengarah pada suatu keadaan tertentu ( anonym 10 , 2009).
Alternatif-alternatif tindakan ini diharapkan akan sampai pada sasaran utama yaitu “jumblah produksi yang meningkat dan berkualitas“ sehingga pada ahirnya jumblah penjualan tinggi. Semua penyelesaian masalah akan dilakukan dan diharapkan dapat berlangsung degan baik. Setelah melalui evaluasi, maka alternatif tindakan yang dapat dilakukan untuk mencapai sasaran adalah:
a. Untuk sasaran antara “ bahan baku yang kurang berkualitas”, maka alternatip yang dapat di lakukan adalah “ meningkatkan kualitas bahan baku”.
b. Untuk sasaran antara “ biaya produksi berkurang” maka alternatif yang dapat di lakukan adalah bertambahnya biaya produksi untuk meningkatkan kualitas produksi.
c. Untuk sasaran antara “pemasaran yang kurang “ maka alternatif yang didapat di lakukan adalah meningkatnya kualitas produksi
6.2. analisis kepetusan
Analisis keputusan merupakan proses prosedur sistematis yang berdasarkan pada pola piki yang berdasarkan pada pola piker yang digunakan dalam menentukan pilihan dan berguna untuk memutuskan alternatif. Selain itu, analisis keputusan juga diharapkan akan dapat menjawab alternatif.selain itu analisis keputusan juga di harapkan akan dapat jawaban tindakan apakah apa yang diperlukan dalam upaya pemecahan persoalan yang diharapkan.
Tujuan dari analisis keputusan adalah mengidentifikasi apa yang harus dikerjakan, mengembangkan kriteria yang harus dipenuhi oleh sebuah pilihan, mengevaluasi alternatif terpilih terhadap kriteria tersebut dan mempertimbangkan resiko-resiko yang mungkin timbul dalam upaya pemecahan persoalan yang dihidapi.
Tujuan dari analisis keputusan adalah alternatif mengidentifikasi apa yang harus dikerjakan, mengembangkan kriteria yang harus dipenuhi oleh sebuah pilihan, mengembangkan kriteria yang harus dipenuhi oleh sebuah pilihan, mengevaluasi alternatif terpilih terhadap kriteria tersebut dan memperhatikan resiko-resiko yang mengkin timbul dari alternatif terpilih. Beberapa langkah yang harus ditempuh adalisis keputusan adalah sebagai berikut :
6.2.1. pernyataan keputusan
Tahap ini menunjukan pusat perhatikan pada persoalan yang sudah ada. Pertanyaan keputusan tidak hanya menunjukan tujuan dari suatu keputusan, tetapan juga merupakan tindakan yang diambil dari keputusan tersebut.
6.2.2. Kriteria keputusan
Kriteria keputasan merupakan kemampuan memberikan gambaran mengenai sesuatu keadaan suatu keadaan yang lebih jelas dan terperinci tentang hasil keputusan yang diambil. Tujuan penetapan kriteria adalah untuk menyaringan sejumblah alternatif lain yang pada akhirnya akan muncul alternatif terbaik.
6.2.3. Alternatif keputusan
Alternatif keputusan merupakan kemampuan memberikan gambaran mengenai suatu keadaan yang lebih jelas dan terperinci tentang hasil keputusan yang di ambil. Tujuan penetapan kriteria adalah untuk menyaring sejumblah alternatif lain yang pada akhirnya akan muncul alternatif terbaik.
6.2.4. Evaluasi alternatif terhadaf kriteria keputusan
Tahapini merupakan prosedur yang digunakan untuk mengambil alternatif yang paling baik yang dapat memenuhi sasaran alternatif-alternatif yang diperoleh pada alternatif keputusan kemudian dievaluasi. Dalam evaluasi ini digunakan system pembobot, dimana kriteria keputusan dan alternatif keputusan yang diberi bobot kemudian diperhatikan hasil perkalian yang memiliki bobot yang tertinggi adalah merupakan alternatif yang diprioritaskan.
BAGIAN TUJUH
MATRIK PERENCANAAN PROYEK PENGEMBANGAN AGROSISTEM
7.1. Matrik perencanaan pengembangan agrosistem
Matrik perencanaan pengembangan agrosistem kasus adalah suatu usaha untuk mengembangkan rencana proyek yang dapat memberikan suatu ringkasan mengenai rencana proyek yang dapat memberikan suatu ringkasan mengenai rancangan proyek tersedia akan menggambarkan bagaimana tindakan yang dilakukan untuk memenuhi sasaran antara dan sasaran utama serta sarana dan biaya yang diperlikan untuk mewujudkan tindakan tersebut.
Matrik perencanaan pengembangan usaha menerapkan mengapa proyek dileksanakan ( maksud dan sasaran pengusaha ) apa yang di hasilkan oleh pengusaha ( hasil-hasil ) pengusaha, bagai mana pengusaha akan bekerja untuk mencapai hasil yang diiginkan ( kegiatan-kegiatan pengusaha, faktor-faktor diluar pengaruh langsung pengelolah pengusaha yang perlu diawali degan pengawasan demi keberasilan pengusaha, bagaimana keberasilan usaha dapat dinilai secara objektif ( indicator-indikator ), dari mana data yang perlu dinilai dari keberhasilan secara objektif data diperoleh (sumber-sumber pembuktian), dan beberapa sarana dan biaya yang diperlukan untuk melaksanaan kegiatan.
Matrik perencanaan menggambarkan bagai mana tindakan yang akan dilakukan untuk memenuhi sasaran yang akan dilakukan untuk memenuhi sasaran utama dimana uraian ini di jelaskan masing-masing tentang ukuran tercapainya tujuan dan system informasi pengendaliannya, sedangkan pada bagian tindakan dijelaskan mengenai sarana yang di butuhkan untuk memenuhi tindakan tersebut serta perkiraan besarnya biaya yang digunakan.
Matrik pengembangan pengusaha pengembangan usaha ini, stuktur pengembangan alternatif terpilih di jabarkan ke dalam matrik perencanaan, pada matrik ini yang dilakukan mengidentifikasi dari masing-masing tindakan tujuan, menentukan system imformasi pengendalian pengusaha, menentukan sarana yang diperlukan dan menentukan besaran biaya yangdigunakan untuk mendukung tindakan pelaksanaan proyek.
7.2. rencana kerja tindakan
Rencana kerja adalah rincian lebih lanjut dari informasi yang didapat dalam matrik perencanaan pengusaha. Rencana ini merupakan aplikasi dari tindakan yang telah dirumuskan mengenai pelaksanaan setiap tindakan yang dituangkan dalam format yang memuat siapa penanggung jawab kegiatan, apa yang di harap dari kegiatan tersebut serta kapan mulai dan berahir kegiatan tersebut.
Rencana kerja pengusaha adalah rencana kerja usaha untuk menyusun kegiatan proyek yang dapat memberikan suatu ringkasan mengenai pelaksanaan rencana kegiatan agar perusahaan dapar berkembang secara pesat, yang didalam meliputi penggung jawab dari masing-masing tindakan yang akan dilakukan, kegiatan serta penjadwalan kegiatan.
Untuk lebuh jelasnya tentang rencana kerja tindakan pengusaha ayam potong dapat dilihat pada table 4
Tablel 4 Matrik rencana kerja proyek pengembangan pengusaha tahu
| Tindakan | Penanggung jawab | Hasil kegiatan |
| Bahan baku yang berkualitas | Pemilik pengusaha | Meningkatkan kualitas produksi |
| Biaya produksi bertambah | Pemilik pengusaha | Menambah biaya produksi untuk meningkatkan kualitas produksi |
| Kualitas bahan baku yang bertambah | Pemilik pengusaha | Menambah kualitas produksi |
| Pemasaran bertambah | Pemilik pengusaha | Kualitas produksi menambah nilai pemasaran |
Sumber : Analisis Penulis 2012
BAGIAN DELAPAN
ANALISIS PERSOALAN POTENSIAL
8.1. Analisis persoalan perencanaan
Analisis persoalan potensi adalah suatu prosedur yang memungkinkan kita untuk memasuki masa depan, melihat apa yang terkandung di dalamnya untuk kemudian kembali di masa kini untuk mengambil tindakan selagi masih mengambil tindakan.
Analisis persoalan potensi memberikan solusi terhadap persoalan potensi ada beberapa langkah yang harus ditempu yaitu merumuskan perencanaan rencana kegiatan, menyusuk pelaksanaan kegiatan, mengidentipikasi persoalan potensi khusus dan menetapkan tindakan-tindakan pencegahan serta tindakan penanggulangan.
- Perencanaan kegiatan adalah pernyataan yang berhubungan dengan tindakan yang akan direalisasikan. Pernyataan rencana kegiatan diperlukan untuk memberikan arah dan tujuan dari alternatif terpilih sebagai jawaban terhadap persoalan timbul.
- Skenario Pelaksanaan Kegiatan merupakan tindak lanjut dari pernyataan rncana kegiatan yang telah ditetapkan dan merupakan susunan dari rencana kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai sasaran dalam pernyataan rencana kegiatan.
- Identifikasi tahap-tahap rawan adalah mengidentifikasi langkah-langkah kegiatan yang dalam pelaksanaannya kemungkinan mengalami hambatan sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan dan penganggulangan. Hambatan ini dapat berupa situasi dan perlakuan dari pihak tertentu yang berhubungan dengan pelaksanaan kegiatan.
- Identifikasi persoalan potensial khusus dimaksudkan untuk mengetahui dengan mudah persoalan yang mungkin timbul pada tahap-tahap rawan dari skenario kegiatan.
- Identifikasi sebab-sebab persoalan potensial khusus dimaksudkan untuk mengetahui kemungkinan yang menyebabkan timbulnya persoalan potensial khusus. Dengan demikian diharapkan bahwa kita dapat melakukan tindakan pencegahan dan penanggulangan terhadap persoalan-persoalan khusus yang dapat menimbulkan akibat terhadap pengelolaan pada tahap-tahap rawan.
- Tindakan pencegahan jauh lebih baik dan lebih efektif daripada tindakan penanggulangan. Tindakan ini dimaksudkan untuk mengurangi atau menghilangkan penyebab persoalan potensial khusus yang ada pada skenario pelaksanaan kegiatan.
- Tindakan penanggulangan yaitu tahap ini dilakukan terhadap persoalan yang tidak dapat dicegah dengan tujuan untuk mengurangi akibat dari persoalan itu. Tindakan ini merupakan langkah akhir bila tindakan pencegahan tidak dapat dilakukan lagi.
- Struktur tindakan merupakan upaya untuk menyusun rencana kegiatan yang juga merupakan rangkuman dari pernyataan rencana kegiatan, skenario pelaksanaan kegiatan, tahap-tahap rawan, persoalan potensial khusus, sebab-sebab persoalan potensial khusus, tindakan pencegahan dan penanggulangan.
Berdasarkan tindakan yang dilakukan maka analisis persoalan potensial masing-masing tindakan adalah sebagai berikut :
Rencana kegiatan I pengusaha
1. Skenario pelaksanaan
Ø Bahan baku berkualitas
Ø Biaya produksi bertambah
Ø Kualitas produksi bertambah
Ø Meningkatkan pemasaran
Rencana Kegiatan II : Menjalin kerjasama dengan relasi yaitu pada Pedagang Besar
1. Skenario Pelaksanaan Kegiatan
a. Bahan baku yang berkualitas
b. Biaya produksi bertambah
c. Kualitas produksi bertambah
d. Meningkatkan pemasaran
2. Identifikasi Tahap-Tahap Rawan
a. Bahan baku yang kurang berkualitas
b. Biaya produksi yang kurang
c. Kualitas produksi yang kurang
3. Identifikasi Persoalan Potensial Khusus (PPK)
a. Menurunnya produksi
b. Berkurangnya biaya produksi
c. Pemasaran yang berkurang
4. Identifikasi sebab-sebab PPK
a. Penurunan kualitas produksi
5. Tindakan Pencegahan
a. Meningkatkan kualitas produksi
b. Meningkatkan hasil produksi yang berkualitas
6. Tindakan Penanggulangan
a. Melakukan peningkatan kualitas produksi
b. Meningkatkan produksi tahu.
Tablel 5. Matrik analisis persoalan petensi pengembangan agrosistem pada pengusaha Tahu
| Pernyataan Rencana Kegiatan | Skenario Kegiatan | Identifikasi Tahap-Tahap Rawan | Identifikasi Persoalan Potensial Khusus (PPK) | Identifikasi sebab-sebab PPK | Tindakan Pencegahan | Tindakan Penanggulangan |
| Bahan baku berkualitas | Meningkatkan kualitas bahan baku | Kurananya kualitas bahan baku | | Menambah kualitas bahan baku | ||
| Biaya produksi bertambah | Menambah biaya produksi | Biaya produksi produksi yang menurun | . | Menambah biaya produ | ||
| Kualitas bahan baku bartambah | Menambah kualitas bahan baku | Kurangnya kualitas bahan baku | Menambah kualitas bahan baku | |||
| Pemasaran bertambah | Produksi bertambah | Kurangnya produksi | Produksi dapat meningkatkan hasil produksi |
Sumber : Analisis Penulis 2012
BAGIAN SEMBILAN
RENCANA IMPLEMENTASI
DAN AGENDA PEMANTAUAN
9.1. Dasar pertimbangan
Kualitas produksi adalah totalitas dari karakteristik suatu produk (barang atau jasa) yang menunjang kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan. Kualitas sering kali diartikan sebagai segala sesuatu yang memuaskan konsumen. Untuk menciptakan kualitas produksi yang berkualitas dalam agrosistem kasus, maka penulis mencoba membuat suatu rencana implentasi.
Rencana inplementasi merupakan suatu bentuk rencana yang disusun untuk memberikan gambaran tentang kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan oleh perusahan untuk menerapkan berbagai tindakan-tidakan yang terpilih. Melalui rencana implementasi ini, pihak perusahan diharapkan merupakan suatu konsep rencana kegiatan yang lebih terinci dan terarah sehingga tercipta kemitraan yang kuat untuk menciptakan suatu iklim kerja.
Menetapkan recana agenda pemantauwan diharapkan apa yang telah dihasilkan dan direncanakan degan berbagai bentuk pertimbangan dan analisa dapat menjadi solusi terbaik untuk memperbaiki situasi pengusaha sekarang.
9.2. Rencangangan implementasi kegiatan
Berdasarkan hasil penelitian analisis persoalan dan rencana kerja pengusaha pengembangan agrosistem pada pengusaha Tahu, maka dapat disusun rancangan implementasi kegiatan berikut :
9.2.1. Bulan Januhari 2013
Pada bulan ini terhada tiga agenda kegiatan yang akan dilaksanakanoleh pengusaha yaitu ( 1 ) meningkatkan kualitas bahan baku, ( 2 ) meningkatkan biaya produksi, ( 3 ) meningkatkan pemasaran. Untuk kegiatan tersebut di lakukan bersama- sama.
Pada minggu I dan II, pihan pengusaha melakukan perbaikan tenaga kerja yaitu menambah tenaga kerja. Dimana pihak penggusaha melakukan peningkatan produksi melalui peningkatan pemeliharaan.
Pada minggu III kegiatan pemeliharaan dapat di laksanakan dan siap menunggu hasilnya.
9.3. rencana kegiatan pemantauwan kegiatan
Adapun rencana agenda pemantauwan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh pihak pegusaha Tahu, Desa balete, Kecamatan Sukamaju, Kabupaten Lampuwa dalam rangka meningkatkan produksi dapat dilihat pada table.
Table 6 rencana kegiatan pemantauan penggusaha pengusaha tahu
| No | Rencana kegiatan | Indikator kinerja | Jadwal( bulan ) tahun 2012 | |||||||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | |||
| 1 | Bahan baku yang berkualitas | Meningkatkan kualitas bahan baku | X | | | | | | | | | | | |
| 2 | Meningkatkan biaya produksi | Biaya produksi bertambah | X | | | | | | | | | | | |
| 3 | Pemasaran meningkat | Meningkat produksi | | X | | | | | | | | | | |
Sumber : Analisis Penulis 2012
EPILOG
Selama melakukan praktek lapang di pengusaha ayam potong di desa lampuawa yang dilakukan selama 2 kali, banyak pengetahuan, pelajaran dan pengalaman yang diperoleh tentang dunia kerja agrosistem, dimana hal itu dapat dijadikan sebagai contoh di kehidupan kita masa yang akan datang. Pengetahuan yang diperoleh berupa hal-hal positif maupun Negatif.
Teoritik
Dari segi teoritik, pelajaran dan pengalaman yang telah diperoleh yaitu:
1. untuk menjalankan suatu usaha yang paling penting dan paling utama dilakukan yaitu perumusan visi dan misi usaha untuk menentukan arah dan tujuan usaha itu.
2. Implementasi dan fungsi-fungsi manajemen merupakan salah satu faktor penting untuk mencapai keberhasilan dalam dunia bisnis.
3. Pemanfaatan modal adalah kunci utama suatu usaha.
Metodologik
Pelajaran dan pengalaman penting dari segi metodologik yaitu:
1. Metode Analisis Pohon Masalah dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk mencari solusi dari masalah-masalah yang terjadi di Agrosistem kasus.
2. Penggunaan Metode Analisis Perencanaan dan Pengembangan Agrosistem dalam hal mengemukakan pendapat visi dan misi pribadi dapat mengarahkan kita menuju pencapaian tujuan pribadi yang di inginkan.
3. Metode APPAS sangat berguna sebagai bekal bagi penulis di masa yang akan datang. Saat penulis terjun dalam dunia usaha baik menciptakan lapangan kerja sendiri maupun sebagai tenaga kerja yang mapu memperbaiki pergeseran ekonomi menjadi lebih baik. Metode APPAS yang sifatnya aplikatif mampu memberikan penulis wawasan yang lebih luas tentang metode untuk mengembangkan sebuah perusahaan meskipun dengan modal yang minim. Semua pasti bisa jika kita yakin dan percaya yang disertai doa dan usaha semaksimal mungkin.
Etik
Pengalaman atau pelajaran penting yang diperoleh dari segi etik yaitu:
7. Kerja sama yang baik dalam struktur organisasi sangat dibutuhkan dalam menjalankan suatu usaha.
8. Perlunya rasa tanggung jawab bagi setiap tenaga kerja terhadap tugas yang diemban.
9. Kejujuran dalam hidup akan membuahkan sesuatu yang berharga untuk masa depan.
Saran
untuk Evaluasi Pembelian Bahan Baku untuk Mencapai Efisiensi Biaya Produksi Pada Pengusaha Tahu terhadap agrosistem kasus yang kami kaji sebaiknya menggunakan metode analisis persoalan dan pengembangan agrosistem yang telah kami rekomendasikan untuk meningkatkan kemajuan organisasi itu.
DAFTAR PUSTAKA
Proses pembuatan tahu ( online ) http://lordbroken.wordpress.com/2010/07/16/proses-pembuatan-tahu/. Di akses 17 juni 2012
Proses pembuatan tahu sumedang ( online ) http://archive69blog.blogspot.com/2011/08/proses-pembuatan-tahu-sumedang.html. Di akses 18 juni 2012
Mengenal proses pembuatan tahu ( online ) http://www.kesehatan123.com/3463/mengenal-proses-pembuatan-tahu/. Di akses 19 juni 2012
Pembuatan tahu kembang ( online ) http://carapedia.com/proses_peman_kembang_tahu_info721.html. Di akses 19 juni 2012
Pembuatan tahu ( online ) http://salmanalfaridzii.blogspot.com/2011/12/pembuatan-tahu.html. Di akses 20 juni 2012









